PALANGKA RAYA, EksposBorneo.com – Perhimpunan Insan Perunggasan (Pinsar) Kalimantan Tengah (Kalteng) menggelar aksi damai di depan Kantor PT PLN (Persero) UP3 Palangka Raya, Rabu (30/7/2026). Aksi tersebut menjadi bentuk protes peternak ayam terhadap pemadaman listrik bergilir yang mereka nilai telah menimbulkan kerugian besar dan mengancam keberlangsungan usaha peternakan di Kalimantan Tengah. Dalam aksi itu, para peternak mendesak PLN segera mengakhiri pemadaman listrik serta memberikan kepastian layanan kelistrikan yang andal bagi masyarakat.
Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat kepolisian. Sejumlah peserta membawa spanduk berisi tuntutan agar PLN memperbaiki kualitas pelayanan dan menghentikan pemadaman bergilir yang selama beberapa pekan terakhir terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah.
Ketua Pinsar Kalimantan Tengah, Andi Bustan, mengatakan gangguan pasokan listrik memberi dampak serius terhadap industri perunggasan karena sebagian besar peternakan modern menggunakan sistem kandang tertutup (close house) yang sepenuhnya bergantung pada pasokan listrik.
“Kalau kondisi ini terus dibiarkan, peternak bisa kolaps. Harga ayam sudah jatuh, sekarang ditambah sering mati lampu. Ayam yang dipelihara selama 40 hari justru mati menjelang panen,” ujarnya.
Pemadaman Listrik Ancam Industri Perunggasan
Andi menjelaskan sekitar 90 persen peternakan ayam di Kalimantan Tengah telah menggunakan sistem close house. Sistem tersebut mengandalkan listrik untuk mengoperasikan kipas ventilasi, pendingin, pompa air, hingga peralatan pendukung lainnya. Ketika listrik padam, sirkulasi udara di dalam kandang langsung terganggu sehingga meningkatkan risiko kematian ayam dalam waktu singkat.
Ia menegaskan pemadaman listrik, meski hanya berlangsung beberapa menit, dapat memicu kematian ribuan ekor ayam. Kondisi tersebut menyebabkan peternak mengalami kerugian finansial yang sangat besar karena ayam mati menjelang masa panen.
Menurut Andi, satu kandang berkapasitas sekitar 40 ribu ekor ayam berpotensi mengalami kerugian hingga Rp360 juta apabila terjadi kematian massal. Jika gangguan listrik terjadi secara bersamaan di banyak peternakan, total kerugian industri perunggasan di Kalimantan Tengah diperkirakan dapat mencapai miliaran rupiah.
Selain berdampak pada peternak, ia menilai pemadaman listrik juga berpotensi mengganggu rantai pasok pangan. Penurunan produksi ayam pedaging dikhawatirkan akan memengaruhi ketersediaan stok di pasaran dan memicu kenaikan harga bagi masyarakat.
Peternak Minta PLN Segera Pulihkan Layanan
Andi menambahkan industri perunggasan di Kalimantan Tengah melibatkan sedikitnya 12 perusahaan besar dengan jumlah tenaga kerja sekitar 3.000 hingga 4.000 orang. Karena itu, gangguan listrik tidak hanya merugikan pelaku usaha, tetapi juga berpotensi memengaruhi ribuan pekerja yang menggantungkan mata pencaharian pada sektor tersebut.
Ia menyebut dampak pemadaman listrik telah dirasakan peternak di sejumlah daerah, di antaranya Kota Palangka Raya, Kabupaten Kotawaringin Barat, dan Kabupaten Kotawaringin Timur. Pinsar Kalimantan Tengah berharap PLN segera mempercepat pemulihan sistem kelistrikan agar aktivitas peternakan kembali berjalan normal.
Para peternak juga meminta PLN meningkatkan keandalan jaringan listrik sehingga pemadaman bergilir tidak kembali terjadi. Mereka berharap pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan ikut mengawal penyelesaian persoalan tersebut agar sektor perunggasan tetap mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Kalimantan Tengah. (Sat)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan